Minggu, 05 Februari 2012

Galau

Malam ini, rasanya ada banyak banget hal yang berputar-putar dengan ganasnya di kepala ini. Entah karena apa, rasanya pikiranku lagi capeeekkkkkk banget. Banyak yang mau ditulis, tapi pada geje semua. Pingin istirahat sendirian aja, tapi juga gak mungkin. Rasanya kegiatan, kerjaan, tugas rumah, dan lain-lain sebagainya pada mengejar tiap waktu. Rasanya, jadi gak punya waktu buat diri sendiri. Rasanya capeeekkkk bgt, tapi juga gak jelas karena apa. Apa karena selama 3 hari kemaren di luar kota terpaksa harus mengikuti rapat dari pagi ampe tengah malem ?? Ataukah karena ada seorang temen kerja yang bikin aq ngerasa terganggu dengan perasaannya?? Atau apa sih? Pusing deh. Waktu buat nulis blog juga gak banyak, padahal yang pengen ditulis banyak. Huft......

Kerjaan
Ada 1 hal yang aku sadari saat bekerja di dunia sosial, adalah bahwa bekerja di dunia sosial itu gak mengenal waktu. Emang sih, mungkin soal keberadaan di kantor masih sedikit terbatasi dengan jam di kantor, tapi kalo soal pikiran itu yang gak bisa ditinggalin. Rasa-rasanya ada aja yang harus dipikirin. Padahal niatku aku pingin mbebasin pikiran biar bisa mengembangkan pemikiranku sendiri. Kalo kayak gini caranya, rasanya berasa diriku sendiri diperangi oleh nilai-nilai lain yang ada di sekitarku dan itu hampir tanpa perlawanan. Pingin cari aktualisasi, tapi rasanya waktunya juga gak cukup.

Tugasku ternyata jauh lebih berat dari yang aku bayangkan. Menjadi staff database sih masih mending, tapi merangkap juga jadi staff monev jadi bikin bingung. Aku yang gak bisa menilai orang, diharuskan untuk menilai, mengevaluasi, mengkritisi, dan cerewet ama orang. Haihhh.....Padahal pinginnya menghindari pekerjaan yang banyak berhubungan ama orang. Emang sih, aku suka kritis, tapi gak soal orang lain, aku lebih suka kritis dalam hal ide. Aku kan gak suka kalo kayak gitu ama orang.

Belum lagi harus menganalisan data kualitatif, aq yang gak pengalaman sama sekali ini jadi berasa ditelen ama itu tugas. Piye coba nganalisisnya? Menghubungkannya dengan berita-berita yang terjadi di dunia. Haihh....Aku ini bukan orang yang update dan suka mengupdate berita-berita faktual. Emang sih, aku suka menganalisa, tapi aku lebih suka menganalisa hal-hal abstrak dan ide, bukan fakta. Menganalisa fakta itu rasanya gak bisa bebas, dan sulit untuk mengetahui kebenaran, apalagi kalo berhubungan ama manusia, malah semakin geje dah. Gak tau dah, yang satu ini harus dimulai darimana dan bagaimana. Pelatihan yang kemaren mah gak jelas banget, materi 5 hari, dipatdetin jadi 3 hari, dan masih juga dipadetin. Jadilah yang dilatih masih merasa bingung soal yang satu ini.

Masih juga ditambahin tugas yang menunggu lama, bikin program buat perpus, ngadmin-i web, ngajar bahasa inggris, dan analisa data-data yang ada sebelum aku masuk situ. Kapan selesenya nieh?? Mbulet ae kayak susur.


Tapi, yah ada sedikit kemajuan sih, aku sekarang udah berani ke lapangan, meski dalam 1 bulan cuman 1x doank. Pasti dah kena tegur lagi bulan ini. Yah, gak apa-apa sih.

Teruzzzzz,,,,,,,, ada juga yang menggangguku. Ada seorang temen kerja yang kayaknya sih naksir gitu. Aiihhh....Mana dia keliatan banget ama staff-staff lainnya. Apa yah? Rasa-rasanya perhatian yang berlebihan kayak gitu jadi mengganggu deh. Mendingan biasa-biasa aja, n ngomongnya pribadi aja, gak usah dibuka-buka gitu, meski cuma secara implisit. Ya, sebenernya wajar aja sih kalau dia ngelakuin itu. Tapi, gimana yah.....aku gak suka digituinnn................... (Apalagi, rasa-rasanya pengalaman dari kecil tiap di taksir orang, n orang itu ngejar-ngejar, pasti dah aku yang kena apesnya)

Sohib
Gak ada masalah sih antara aku ma sohibku. cuman, karena gak pernah ketemu jadinya kangen aja. Pingin deh curhat-curhatan buanyak banget. Tapi, yah apa boleh buat jarak dan keterbatasan memisahkan  kita #halah.

Sebenere, udah tau dari lama sih hari-hari kayak gini pasti dateng. Suatu saat dimana kita menempuh jalan masing-masing. Tapi, tetep aja susah yah?? Apalagi aku juga pingin tau "kabar-kabar"nya nih. Kalau via hape mah, dia jarang mau cerita. Ya iya sih, emang gak enak via hape itu.

 Kuliah
Sebenere nih, aku pingin kuliah taun ini. Tapi, rasanya rada pesimis. Soalnya kok kayaknya susah yah cari kuliah jurusan psikologi yang bisa masuk malam, tapi tetep kualitas. Gak asal dapet gelar aja. Mana, ada tanggungan biaya yang banyak.
Kalo gak cepet-cepet kuliah, ntar kemakan umur. Aku kan cewek. Kalo' gak segera merintis karir ntar bisa kecantol ama kehidupan keluarga n gak maju-maju niiii.........Mana aku kan ngulang lagi kulnya, coz ambil jurusan lain (dulu ambil Manj. Informatika).

Blog
Ngomong2, ini blogQ makin sepi aja yah? Wajar aja sih, isinya makin gak jelas,gak mutu. Udah yang sebelum-sebelumnya ga terlalu menarik, apalagi sekarang. BW juga juarang banget. Dan, yah sepertinya tetap saja "my attitude" cukup mempengaruhi.

Padahalniat nulis di blog pingin share n diskusi tentang pemikiran-pemikiran gitu. Tapi, kalau kayak gini jadinya   gak nyampe deh maksud hati. Hufth....Sudahlah.

Aahhh......I need my alone time, enjoying , passing the time just by myself, my mind,  my world. Haiiihhhh.......

Rabu, 25 Januari 2012

"Peace" #2


Entah kenapa, rasanya hari ini mood-ku lagi jelek deh. Udah gitu, dari pagi mata berasa panas gitu. Apa mau sakit yah? Tapi, rasanya badan juga gak lemes. Jadi rasa-rasanya jadi pingin nangis teruz. Padahal ini lagi di tempat kerja. Gak biasa banget deh perasaanku gak jelas puol kayak gini. Udah gitu, akhir-akhir ini bener-bener kehilangan nafsu makan lagi. Sehari bisa-bisa Cuma makan nasi sekali doank, itu pun Cuma ngabisin nasinya adek ato mamaku. Haiihhh…..What happen with me nie????

Ok, udah dulu sekilas curhatnya.Sekarang, aku pingin melanjutkan postinganku yang sebelumnya tentang damai, di sini.

Apa sih damai itu? Kenapa sejak jaman pra sejarah, sampe sekarang masih saja belum tercapai. Apakah damai berarti : 
tanpa konflik. Tapi,mungkinkah kita hidup bersana tanpa konflik sama sekali?? Bukankah sebuah kewajaran saat terjadi gesekan? Dan, bukankah berkat konflik itu juga kita bisa saling memahami satu sama lain lebih baik lagi? 
  • tanpa masalah. Tapi, mungkinkah kita hidup tanpa masalah? Bukankah tidak ada seorang pun di dunia ini yang seumur hidupnya tidak memiliki masalah?? Dan, bukankah dengan melalui masalah-maslaah itulah kita bisa belajar menjadi lebih baik, memperbaiki kesalahan, dan menjadi dewasa?
  • Saling mengasihi. Seperti kita tahu, saat hidup bersama, tidak mungkin tidak terjadi gesekan dan konflik, lalu apa salahnya jika kita berkonflik dengan orang lain? Mungkinkah memaksa orang-orang yang berkonflik itu untuk saling mengasihi, dan mengingkari perasaan mereka sendiri? Bukankah pemaksaan seperti itu sama saja dengan tidak saling mengasihi? Dan, tidak mungkin kita pungkiri, pasti ada hal-hal yang tidak kita sukai, lalu haruskah kita memaksa diri kita untuk menyukai hal-hal itu sebagai aplikasi dari rasa kasih itu?
  • Saling memahami satu sama lain. Tetapi, kita tidak mungkin bisa memahami semua orang di dunia ini,kan? Pun, kita tidak bisa memaksa orang lain untuk selalu saling memahami, atau memahami kita terus menerus.
  • Tidak mencampuri urusan orang lain, hanya mengurusi urusannya masing-masing. Tapi, bagaimana mungkin kita tidak “mencampuri urusan orang lain”? Bukankah yang namanya hidup bersama berarti juga menerima resiko untuk dicampuri dan harus mencampuri urusan orang lain? Bukankah kita adalah makhluk social yang pasti membutuhkan yang lainnya untuk hidup??

Jadi, apakah damai itu? Benarkah damai itu memang tidak mungkin terwujud? Atau bagaimanakah hidup damai yang sebenarnya?? Apakah damai itu hanyalah harapan dan fantasi kosong kita belaka?

Rabu, 18 Januari 2012

“Peace” #1


Kedamaian, itu adalah isu yang sejak jaman dulu diperjuangkan. Entah sudah berapa puluh, ratus, atau bahkan ribuan tahun isu itu terus-terusan dikobarkan. Namun, adakah kedamaian itu pernah tercapai? Adakah saat dimana semua orang di dunia ini mengalaminya?? Kenapa yang ada justru perang yang bersahut-sahutan terus terjadi. Tak peduli, seberapapun orang-orang berteriak atas nama kedamaian, tetap saja perang masih terjadi di belahan bumi lainnya. Tak peduli, seberapapun nyawa yang telah hilang, kedamaian tetap tidak pernah tercapai. Dan, tetap saja perang masih bersahutan terjadi.

Apakah kedamaian hanyalah sebuah ide utopis, yang tidak akan pernah mungkin terjadi?? Lalu, untuk apakah selama ini kita berjuang, berkorban untuk sebuah ide yang gak akan pernah kita capai?? Apakah semua perjuangan dan pengorbanan itu hanya sia-sia?? Hanyakah mimpi semua itu? Lalu, untuk apa kita masih mengharapkan kedamaian??

Namun, benarkah perdamaian itu hanyalah impian kosong?? Benarkah segala hasrat, keinginan yang kita miliki tentang perdamaian ini hanyalah khayalan, fantasi kita belaka?? Benarkah, apa yang perasaan kita tentang kedamaian ini hanyalah fatamorgana??

Tanyakan pada diri anda, apakah anda sedang pura-pura merasakan sakit, menderita, saat melihat orang-orang dibantai di depan mata anda? Apakah anda sedang berpura-pura saat orang-orang yang dengan gilanya sedang saling membunuh? Apakah anda sedang berpura-pura saat anda menginginkan hidup aman dan nyaman? Apakah anda sedang pura-pura merasakan sakit , saat anda menjadi korban dari semua itu? Apakah rasa terganggu yang kita rasakan terhadap segala pertengkaran itu hanya kepura-puraan saja? Apakah segala perasaan sedih, marah, sakit, dan lain sebagainya yang anda rasakan itu hanyalah kepura-puraan, fatamorgana saja??

Ataukah…….

Selama ini, kita masih belum benar-benar menemukan makna kedamaian itu?? Apa sih damai itu?? Seperti apakah hidup damai itu?? Apakah damai itu berarti hidup ayem tenterem, tanpa konflik. Lalu, bukankah berarti kita sudah pernah mencapainya pada masa orde baru? Bukankah kehidupan saat itu sudah mencapai semua itu? Lalu, kenapa justru kita sendiri yang merasa tidak puas dan merusaknya??

Lalu, seperti apakah damai itu sebenarnya??

Senin, 16 Januari 2012

“Acceptance” #1


Apa sih sebenernya “acceptance” itu? Banyak yang selalu berbicara agar kita bisa menerima diri kita apa adanya, orang lain apa adanya, menerima masa lalu kita, menerima kenyataan, dan menerima yang lain-lainnya (?). Namun, bagaimana kita harus menerima segalanya seperti itu? Apakah “acceptance” itu berarti :
  •  Menyukai apapun itu, baik ataupun buruk. Namun, mampukah kita benar-benar menyukai dan menikmati keburukan? Adakah di antara kita yang mampu bertahan seumur hidup dengan kesengsaraan? Adakah yang tahan dengan menanggung segala “hukuman” hidup atas keburukan, baik “keburukan” yang ada di dalam diri kita sendiri, maupun orang lain?? 
  • Jangan melihat keburukan. Mungkin memang dengan begitu kita tidak akan terganggu dengan keburukan yang ada. Anggap saja semuanya ada sisi baiknya. Tapi, bagaimana jika kita mau tidak mau berhadapan dengan keburukan itu?? Apakah kita akan lari meninggalkan, atau bahkan tidak menganggap keburukan itu ada? Apakah itu tidak sama saja dengan individualisme, hanya memperhatikan apa-apa yang kita inginkan, yang sekiranya tidak menyakiti diri kita sendiri. Apakah pada akhirnya, kata-kata indah macam “acceptance” itu cuma kiasan, bahasa halus unttuk melegalkan, mengindahkan egoisme, sisi individualisme kita?
  • Menutupi kekurangan. Kenapa keburukan itu harus kita tutupi? Apakah dengan begitu keburukan itu akan berubah menjadi kebaikan? Apakah kita malu akan keburukan yang ada? Apakah malu, itu arti dari “acceptance”?? Sebegitu dangkalnya kah apa yang disebut sebagai “acceptance”?? Apakah “acceptance” itu tidak lebih dari kata lain untuk mengindahkan “hal-hal yang memalukan”??
  • Pasrah. Haruskah kita pasrah dengan keburukan yang ada? Pasrah, mengikuti arus, berarti juga rela jika segalanya menjadi semakin buruk. Padahal tidak akan ada yang berubah, jika kita tidak mengubah nasib kita sendiri. Dan, pada akhirnya dipertanyakan kembali, mampukah kita bertahan hidup, mengikuti arus, dari keburukan yang ada??
    Melengkapi. Kita harus saling melengkapi keburukan dan kelebihan yang ada. Tetapi, bagaimana jika di sekitar kita tidak ada yang bisa melengkapi keburukan itu? Haruskah kita paksa untuk melengkapi, meskipun pada dasarnya tidak bisa melengkapi?? Haruskah kita juga memaksa orang lain untuk melengkapi kekurangan kita?? Memangnya, siapa kita hingga harus memaksanya untuk melengkapi kita?  Bukankah itu hanya ungkapan egois kita sendiri yang ingin menjadi sempurna?? Hingga harus memaksakan orang lain, atau sesuatu yang lain untuk melengkapi keburukan kita??


Jadi, yang manakah, yang seperti apakah yang disebut acceptance?
 

Jumat, 02 Desember 2011

Sesi Curhat.com

Huwaaahhh....Kangen deh ama blogQ satu  ini, setelah sekian lama gak keutik2 blas. Akhirnya sedikit demi sedikit bisa menjamahmu..... :p

Sekalian ganti wajah, masih coba2 sih, tapi sementara ini cocok ama yang satu ini. Minta saran n' kritiknya dari temen2 yang laen yah?? *masih belajar ni

Ini nulisnya curi2 waktu di tengah rapat kerja nih.Mumpung ada istirahat, setelah beberapa hari kemaren bekerja keras sampe jatoh sakit. Beneran deh, sejak aku kerja gak tau kenapa pas aku ada acara di luar kota mesti aja sakit. Padahal selama kuliah outbond ke luar kota sampe berubah jadi orang eskimo (saking dinginnya), juga ga papa. Jadi sama sekali gak bisa menikmati enaknya makanan dan lain sebagainya, yang bisa dinikmati cuma nikmatnya sakitQ (T^T)

Tapi untungnya gak semuanya gak menyenangkan, soalnya liat rapat kerja kali ini, bener2 kerasa deh semangat para pesertanya. Jadi yah lumayan bisa mengamati proses rapat kerja yang kualitas, sekaligus belajar. Hehe.....

Nah, sekarang mau ceritan tentang tempat kerja baruku nie....

Setelah berkali-kali dipanggil wawancara dan tidak mendapat panggilan kembali, akhirnya keterimalah aku di sebuah kantor yayasan sosial (LSM). Nah tuh, ujung2nya juga tetep berhubungan ama sosial. Yah, memang kalo orang gak putus asa, pasti akan nemu jalannya. Bersyukur banget setelah berbagai hal yang menimpa #halah, aku gak putus asa soal impianku.

Sayangnya, kegiatan yang saat ini dikerjakan di LSM ini masih belum sepenuhnya cocok dengan minatku. Tapi, yah, namanya juga belajar, diikuti aja dulu walaupun makin sering ngerasa jenuh. Apalagi aku ditantang untuk melakukan hal2 yang selama ini aku takuti. Dan, sampe sekarang masih juga belum berani turun ke lapangan. (Doain moga aku bisa segera mengatasi ketakutanku ini yah???)

But Afterall, aku salut ama orang2 yang kerja di genta, juga para tetua2 yang dulu berkecimpung di genta. Mereka orang2 yang hebat.

Hem....Tapi, sepertinya di sini aku dianggap kayak bayi. Kenapa? yah memang begitulah saya.Dan, yah sudahlah that's just the way i am.